Senin, 29 Februari 2016
ketakwaan
TUGAS MAKALAH
ILMU KALAM DAN KEIMANAN, KETAKWAAN
SEMESTER 1 ADMINISTRASI NIAGA
DI SUSUN OLEH KELOMPOK 4 (EMPAT)
SEPTIAN
WENIARTI
DENDI
SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI BANTEN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “ILMU KALAM dan KEIMANAN, KETAKWAAN”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah Pendidikan Agama di STIA BANTEN.
Dalam penulisan makalah ini, kami rasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesarnya. dalam penulisan makalah ini kami ucapkan terima kasih kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Pandeglang, 26 september 2015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 tujuan penulisan
BAB II PEMBAHASAN
1. Ilmu kalam (theologi islam)
2.1 pengertian dan tujuan ilmu kalam
2.2 latar belakang lahirnya ilmu kalam
2.3 aliran-aliran dan paham dalam ilmu kalam
2. keimanan dan ketakwaan
3.1 definisi iman dan takwa
3.2 proses terbentuknya iman
3.3 tanda-tanda orang beriman
3.4 korelasi antara keimanan dan ketakwaan
BAB III PENUTUP
4.1 kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Aqidah ilmu kalam sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari akidah yang terdapat dalam agamanya. Mempelajari akidah/teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan yang kuat , yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh peredaran zaman.
Teologi dalam Islam disebut juga ilmu At-Tauhid. Kata Tauhid mengandung arti satu/esa dan ke-Esaan dalam pandangan Islam merupakan sifat yang terpenting diantara sifat-sifat Tuhan. Teologi Islam disebut juga ilmu kalam.
Ilmu kalam adalah salah satu nama atau sebutan untuk ilmu yang membicarakan ajaran-ajaran dasar agama islam. Nama lain untuk ilmu ini banyak macam nya sesuai dengan segi penekanannya atau dari sisi mana memandangnya.
1.2 rumusan masalah
1. apa pengertian dan tujuan ilmu kalam ?
2. bagaimana latar belakang lahirnya ilmu kalam ?
3. apa saja aliran dan paham ilmu kalam ?
4. apa definisi iman dan takwa ?
5. bagaimana proses terbentuknya iman ?
6. apa saja tanda-tanda orang beriman ?
7. bagaimana korelasi antara iman dan takwa ?
1.3 tujuan penulisan
1. untuk mengetahui pengertian dan tujuan ilmu kalam.
2. Untuk mengetahui latar belakang lahirnya ilmu kalam
3. Untuk mengetahui aliran dan paham ilmu kalam.
4. Untuk mengetahui definisi iman dan takwa.
5. Untuk mengetahui proses terbentuknya iman.
6. Untuk mengetahui tanda-tanda orang beriman.
7. Untuk mengetahui korelasi antara iman dan takwa.
BAB II
PEMBAHASAN
1. ILMU KALAM (THEOLOGI ISLAM)
2.1 Pengertian dan tujuan ilmu kalam
Ilmu Kalam adalah suatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil
aqliyah (rasional ilmiah) dan sebagai tameng terhadap segala tantangan dari para penentang.Secara etimologis, kalam berarti pembicaraan, yakni pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Oleh karena itu, ciri utama dari ilmu kalam adalah rasionalitas atau logika. Kata kalam sendiri mulanya memang dimaksudkan sebagai terjemah dari logos yang diadopsi dari bahasa yunani yang berarti pembicaraan.Dari kata inilah muncul istilah logika dan logis yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan istilah mantiq. Sehingga ilmu logika, khususnya logika formal (silogisme) dinamakan Mantiq. Karena di adopsi dari bahasa Yunani, maka kerangka dan isi pemikiran Yunani memberikan kontribusi yang besar untuk memperkaya ilmu kalam.Menurut Syekh Muhammad Abduh, Ilmu kalam ialah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat wajib yang ada bagi-Nya, sifat-sifat jaiz yang disifatkan bagi-Nya, dan sifat-sifat yang tidak ada bagi-Nya. Selain itu, ilmu kalam juga membahas tentang rasul-rasul Allah untuk mentapkan kebenaran risalahnya, apa yang wajib ada pada dirinya, hal-hal yang jaiz yang dihubungkan kepada diri mereka.
Tujuan ilmu kalam,Untuk mengetahui bahwa Allah itu wajib diimani kewujudan-Nya, yang diperkuat dengan dalil-dalil rasio. Secara teoretis aliran salaf tidak dapat dimasukkan kedalam aliran ilmu kalam, karena aliran ini dalam masalah-masalah ketuhanan, tidak menggunakan argumentasi filsafat atau logika. Aliran ini cukup dimasukkan kedalam aliran ilmu tauhid atau ilmu ushuluddin.
Dengan adanya bukti-bukti yang kuat, manusia yang beriman dapat meningkatkan rasa keimanannya terhadap Allah Shubhanallahu Wata’ala. Adapun tujuan yang lain adalah untuk membantu memperoleh dan mempertahankan keyakinan Muslim yang telah tertanam
2.2 Latar belakang lahirnya ilmu kalam
Ilmu kalam lahir di awali dengan timbulnya masalah politik yang terjadi antar umat islam.peristiwa politik tersebut berawal dari digantikannya umar bin khattab oleh usman bin affan sebagai khalifah ke tiga.pada pemerintahan umar bin khattab,kebijakan-kebijakannya selalu memihak kepada rakyat. Setelah khalifah umar bin khattab wafat dan digantikan usman bin affan,ternyata banyak perbedaan kebijakan yang dilakukan usman bin affan,rakyat menilai perilaku pejabat yang dipimpinnya kurang memihak kepada kepentingan rakyat.
Pada suatu ketika terjadi demonstrasi dan pemberontakan besar-besaran yang mengakibatkan terbunuhnya usman bin affan.masalah meninggalnya usman bin affan adalah persoalan yang sangat rumit dan tak dapat diselesaikan oleh khalifah ali bin abi thalib. Terbunuhnya usman oleh amuk massa demonstran mesir sehingga tidak dapat diketahui siapa yang membunuhnya. Masyarakat mesir marah dan kecewa atas tindakan dari sekertaris khalifah usman yaitu marwan bin hakam. marwan bin hakam menulis surat atas nama kekhalifahan usman yang memerintahkan semua demonstran asal mesir di bunuh setibanya di mesir.hal tersebut diketahui para demonstran sehingga membuat demonstran kembali ke madinah dengan amarah yang memuncak meminta agar marwan diserahkan kepada mereka, tanpa sepengetahuan usman bin affan ternyata marwan beserta keluarganya telah meninggalkan madinah.kemarahan ini semakin tak terbendung hingga terjadi kerusuhan yang mengakibatkan usman bin affan terbunuh.hal ini membuat khalifah ali bin abi thalib kesulitan melacak siapa
pembunuhnya.pemerintahan ali bin abi thalib yang tidak dapat segera menyelesaikan persoalan itu membuat para sahabat seperti talhah,zubair dan lainnya kecewa.masalah ini yang menjadi pemicu awal perselisihan antar sahabat.thalhah,zubair dan lainnya terus menggalang dukungan untuk mendesak ali agar segera menghukum pembunuhnya.namun ali bin abi thalib tidak dapat berbuat lebih jauh.sehingga para sahabat pada akhirnya meminta dukungan aisyah r.a dan muawwiyah yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur SYIRIA.dukungan semakin besar akhirnya menemukan jalan keluar sehingga pada akhirnya mereka harus berperang,dan perang ini disebut PERANG JAMAL,yaitu perang antara pasukan ali dan kelompok thalhah yang diketuai oleh aisyah.
Muawwiyah(gubernur syiria) memimpin perlawanan terhadap kekhalifahan ali bin abi thalib.ia senantiasa mengobarkan anti ali bin abi thalib dengan memanfatkan kelemahan ali yang tidak dapat menghukum dan menangkap pembunuh usman bin affan.muawwiyah membakar emosi massa dengan membawa jubah usman yang berlumuran darah guna menuntut ketegasan ali.celakanya penyelidikan terhadap siapa sebenarnya pembunuh usman tidak ada kemajuan yang berarti.fakta ini akhirnya
membuat muawwiyah bersama kelompoknya menantang perang pihak khalifah ali bin abi thalib.perang inilah yang dinamakan PERANG SIFFIN.
Dalam perang ini ali berhasil memukul mundur dan hampir mengalahkan pasukan muawwiyah.Akan tetapi,ditengah keterdesakan itu akhirnya
pasukan muawwiyah mengangkat mushaf al-qur'an di ujung tombak sebagai tanda perdamaian.Ali dan sebagian pasukannya sebenarnya hendak mengacuhkan sinyal perdamaian tersebut dan hendak menggempur habis pasukan pemberontak tersebut.Akan tetapi para sahabat yang hafal al quran(AhLUL QURRA)yang ada di pihak ali memaksa untuk menyetujui perdamaian itu.
Dalam situasi ini,akhirnya pihak ali menerima tawaran damai tersebut.keputusan ini akhirnya membuat sebagian pasukan ali kecewa dan keluar dari pihak ali bin abi thalib.mereka itulah yang disebut KHAWARIJ.peristiwa ini nantinya disebut POLITIK ARBITRASE/TAHKIM/PERDAMAIAN.Jalan perdamaian telah dipilih maka dimulailah jalur diplomasi.pihak ali mengutus seorang diplomasi yang bernama ABU MUSA AL-ASY'ARI(SAHABAT SENIOR YANG SANGAT JUJUR).sedangkan pihak muawwiyah mengutus AMRU BIN ASH(POLITISI ULUNG YANG LICIK. khalifah untuk kemudian diadakan pemilìhan ulang secra bersama. Ketika pihak muawwiyah yang diwakili amru bin ash berbicara,ternyata diluar perkiraan ia mengatakan:
"ANDA SEMUA TELAH MENDENGAR BAHWA ABU MUSA AL-ASY'ARI TELAH MENURUNKAN
ALI DARI TAHTANYA.INI BERARTI KEKHALIFAHAN TINGGAL SATU YAKNI
MUAWWIYAH,DENGAN DEMIKIAN KITA SAHKAN SAJA MUAWWIYAH SEBAGAI KHALIFAH KITA SEMUA".
mendengar ucapan itu ali bin abi thalib beserta pasukan menjadi marah dan kembalimengangkat pedang mengejar pihak muawwiyah yang takut dan melarikan diri dari serangan pasukan ali bin abi thalib.walaupun pihak muawwiyah lari dari medan perang,keputusan politik yang ditinggalkan merupakan kekalahan diplomasi pihak ali bin abi thalib.Kekalahan pihak ali bin abi thalib dalam tahkim tersebut membuat
sebagian penduduk ali bin abi thalib kembali kecewa dan menyatakan keluar dari barisan khalifah ali bin abi thalib.mereka ini yang disebut khawarij yang jumlahnya lebih bnyak dari yang pertama.kelompok khawarij ini terdiri atas orang-orang BADUI(PEDALAMAN/DESA)yang memiliki cara berfikir sederhana dan tekstualis.mereka menyatakan ke 2 kelompok yang terlibat tahkim itu sebgai KAFIR karena dianggap tidak memutuskan berdasarkan al-qur"an.
2.3 Aliran-Aliran dan paham ilmu kalam
o Aliran Khawarij.
1. Pengertian dan latar belakang timbulnya Aliran khawarij
Aliran Khawarij merupakan Aliran teologi tertua yang merupakn Aliran pertama yang muncul dalam teologi Islam. Menurut ibnu Abi Bakar Ahmad Al-Syahrastani, bahwa yang disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah di sepakati para jema’ah, baik ia keluar pada masa sahabat khulafaur rasyidin, atau pada masa tabi’in secara baik-baik. Menurut bahasa nama khawarij ini berasal dari kata “kharaja” yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan Ali. Kelompok ini juga kadang kadang menyebut dirinya Syurah yang berarti “golongan yang mengorbankan dirinya untuk allahdi samping itu nama lain dari khawarij ini adalah Haruriyah, istilah ini berasal dari kata harura, nama suatu tempat dekat kufah, yang merupakan tempat mereka menumpahakn rasa penyesalannya kapada Ali bin abi Thalib yang mau berdamai dengan Mu’awiyah
2. Sekte-sekte dan ajaran pokok Khawarij
Terpecahnya Khawarij ini menjadi beberapa sekte, mengawali dan mempercepat kehancurannya dan sehingga Aliran ini hanya tinggal dalam catatan sejarah. Sekte-Sekte tersebut adalah:
1. Al-Muhakkimah
2. Al-Azariqah
3. Al-Najdat
4. Al-baihasyiah
5. Al-Ajaridah
6. Al-Sa’Alibah
7. Al-Ibadiah
8. Al Sufriyah
o Aliran Murji’ah
1. Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Murji’ah
Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagai mana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan tuhan, karena hanya tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada tuhansealin allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mangucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir.
Pandangan mereka itu terlihat pada kata murji’ah yang barasal dari kata arja-a yang berarti menangguhkan, mengakhirkan dan memberi pengharapan.
2. Tokoh dan sekte dalam murji’ah
Dalam perkembangannya, Murji’ah mengalami berbagai perbedaan pendapat dikalangan pengikutnya yang mendasari lahirnya aliran-aliran. selanjutnya, aliran murji’ah ini terpecah menjadi beberapa macam sekte, ada yang moderat, ada pula yang ekstrem.
Tokoh murji’ah Moderat antara lain adalah hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusufdan beberapa ahli hadits, yang berpendapat, bagaimanapun besarnya dosa seseorang, kemungkinan mendapat ampunan dari tuhan masih ada. Sedangkan yang ekstrem antara lain ialah kelompok Jahmiyah, pengikut Jaham bin Shafwan. Kelompok ini berpendapat, sekalipun seseorang menyatakan dirinya musyrik, orang itu tidak dihukum kafir.
o Aliran Qadariyah
1. Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Qadariyah
Qadariyah berakar pada qadara yang dapat berarti memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan.Sedangkan sebagai suatu aliran dalam ilmu kalam, qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. Dalam paham qadariyah manusia di pandang mempunyai qudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar dan qada Tuhan
Mazhab qadariyah muncul sekitar tahun 70 H(689 M). Ajaran-ajaran tentang Mazhab ini banyak memiliki persamaan dengan ajaran Mu’tazilah sehingga Aliran Qadariyah ini sering juga disebut dengan aliran Mu’tazilah, kesamaan keduanya terletak pada kepercayaan kedunya yang menyatakan bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan dan perbuatannya, dan tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia ini, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar Allah SWT.
Aliran ini merupakan aliran yang suka mendahulukan akal dan pikiran dari pada prinsip ajaran Al-Qur’an dan hadits sendiri. Al-Qur’an dan Hadits mereka tafsirkan berdasarkan logika semata-mata. Padahal kita tahu bahwa logika itu tidak bisa menjamin seluruh kebenaran, sebab logika itu hanya jalan pikiran yang menyerap hasil tangkapan panca indera yang serba terbatas kemampuannya. Jadi seharusnya logika dan akal pikiranlah yang harus tunduk kepada Al-Qura’n dan Hadits, bukan sebaliknya.
Tokoh utama Qadariyah ialah Ma’bad Al-Juhani dan Ghailan al Dimasyqi. Kedua tokoh ini yang mempersoalkan tentang Qadar.
2. Pokok-pokok ajaran Qadariyah
Menurut Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Fajrul Islam halaman 297/298, pokok-pokok ajaran qadariyah adalah :
1. Orang yang berdosa besar itu bukanlah kafir, dan bukanlahmukmin, tapi fasik dan orang fasikk itu masuk neraka secara kekal.
2. Allah SWT. Tidak menciptakan amal perbuatan manusia, melainkan manusia lah yang menciptakannyadan karena itulah maka manusia akan menerima pembalasan baik (surga) atas segala amal baiknya, dan menerima balasan buruk (siksa Neraka) atas segala amal perbuatannya yang salah dan dosakarena itu pula, maka Allah berhak disebut adil.
3. Kaum Qadariyah mengatakan bahwa Allah itu maha esa atau satu dalam ati bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat azali, seprti ilmu, Kudrat, hayat, mendengar dan melihat yang bukan dengan zat nya sendiri. Menurut mereka Allah SWT, itu mengetahui, berkuasa, hidup, mendengar, dan meilahat dengan zatnya sendiri.
4. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun Allah tidak menurunkan agama. Sebab, katanya segala sesuatu ada yang memiliki sifat yang menyebabkan baik atau buruk.
o Aliran Jabariyah
1. Pengertian, dan latar belakang Kemunculan jabariyah.
Nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Sedangkan menurut al-Syahrastani bahwa Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebutkepada Allah. Dan dalam bahasa inggris disebut dengan fatalism atau predestination, yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia di tentukan sejak semula oleh qada dan qadar tuhan.
Menurut catatan sejarah, paham jabariyah ini di duga telah ada sejak sebalum agama Islam datangke masyarakat arab. Kehidupan bangsa arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar terhadap hidup mereka, dengan keadaan yang sangat tidak bersahabat dengan mereka pada waktu itu. Hal ini kemudian mendasari mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa, dan menyebankan mereka semata-mata tunduk dan patuh kepada kehendak tuhan.
2,Pokok-pokok paham jabariyah.
Jaham bin Shafwan mempunyai pendirian bahwa manusia itu terpaksa, tidak mempunyai pilihan dan kekuasaan. Manusia tidak bisa berbuat lain dari apa yang telah di lakukannya. Allah SWT, telah mentakdirkan ats dirinya segala amal perbuatan yang mesti di kerjakannya, dan segala perbuatan itu adalah ciptaan allah, sama seperti apa yang dia ciptakan pada benda-benda yang tidak bernyawa. Oleh karena itu, jaham menginterpretasikan bahwa pahala dan siksa merupakan paksaan dalam arti bahwa allah telah mentakdirkan seseorang itu baik sekaligus memberi pahala dan allah telah mentakdirkan seseorang itu berdosa sekaligus juga menyiksanya.
Sehingga, dalam realisasinya, orang yang termakan paham ini bisa menjadi apatis dan beku hidupnya, tidak bisa berbuat apa-apa, selain berpangku tangan, menunggu takdir Allah semata-mata dan berusahapun tidak. Karena mereka telah berkeyakinan bahwa allah telah mentakdirkan segala sesuatu, dan manusia tidak bisa mengusahakan sesuatu itu.
Disisi lain, aliran ini tetap berpendapat bahwa manusia tetap mendapat pahala atau siksa karena perbuatan baik atau jahat yang dilakukannya. Paham bahwa perbuatan yang dilakukan manusia adalah sebenarnya perbuatan tuhan tidak menafikan adanya pahala dan siksa.
Berkenaan dengan itu perlu dipertegas bahwa Jabariyah yang di kemukakan Jaham bin Shafwan adalah paham yang ekstrem. Sementara itu terdapat pula paham jabariyah yang moderat, seperti yang diajarkan oleh Husain Bin Muhammad al.Najjar dan Dirar Ibn ‘Amr.
o Aliran Mu’tazilah
1. Pengertian dan latar belakang munculnya Mu’tazilah
Perkataan Mu’tazilah berasal dari kata Í’tizal” yang artinya “memisahkan diri”, pada mulanya nama ini di berikan oleh orang dari luar mu’tazilah karena pendirinya, Washil bin Atha’, tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya, Hasan al-Bashri. Dalam perkembangan selanjutnya, nama ini kemudian di setujui oleh pengikut Mu’tazilah dan di gunakan sebagai nama dari bagi aliran teologi mereka.
Aliran mu’tazilah lahir kurang lebih 120 H, pada abad permulaan kedua hijrah di kota basyrah dan mampu bertahan sampai sekarang, namun sebenarnya, aliran ini telah muncul pada pertengahan abad pertama hijrah yakni diisitilahkan pada para sahabat yang memisahkan diri atau besikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik. Yakni pada peristiwa meletusnya perang jamal dan perang siffin, yang kemudian mendasari sejumlah sahabat yang tidak mau terlibat dalam konflik tersebut dan memilih untuk menjauhkan diri mereka dan memilih jalan tengah.
Disisi lain, yang melatarbelakangi munculnya kedua Mu’tazilah diatas tidaklah sama dan tidak ada hubungannya karena yang pertama lahir akibat kemelut politik, sedangkan yang kedua muncul karena didorong oleh persoalan aqidah.
Dalam perkembangannya, Mu’tazilah pimpinan Washil bin Atha’ lah yang menjadi salah satu aliran teologi dalam islam.
2. Pokok-pokok ajaran Mu’tazilah
Ada lima prinsip pokok ajaran Mu’tazilah yang mengharuskan bagi pemeluk ajaran ini untuk memegangnya, yan dirumuskan oleh Abu Huzail al-Allaf :
1. al Tauhid (keesaan Allah)
2. al ‘Adl (keadlilan tuhan)
3. al Wa’d wa al wa’id (janji dan ancaman)
4. al Manzilah bain al Manzilatain (posisi diantara posisi)
5. amar mauruf dan Nahi mungkar.
o Aliran Ahlussunah Wal- Jamaah
1. Pengertian ahlussunah wal-jamaah
Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW, dan jemaah berarti sahabat nabi. Jadi Ahlussunnah wal jama’ah mengandung arti “penganut Sunnah (ittikad) nabi dan para sahabat beliau.Ahlussunnah sering juga disebut dengan Sunni dapat di bedakan menjadi 2 pengertian, yaitu khusus dan umum, Sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok Syiah, Dalam pengertian ini, Mu’tazilah sebagai mana juga Asy’ariyah masuk dalam barisan Sunni. Sunni dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalambarisan Asy’ariyah dan merupakan lawan Mu’tazilah.Aliran ini, muncul sebagai reaksi setelah munculnya aliran Asy’ariyah dan maturidiyah, dua aliran yang menentang ajaran-ajaran Mu’tazilah.
2. Pokok-pokok pemikirannya
• Sifat-sifat Tuhan. Menurutnya, Tuhan memiliki sifat sebagaiman di sebut di dalam Alqur’an, yang di sebut sebagai sifat-sifat yang azali, Qadim, dan berdiri diatas zat tuhan. Sifat-sifat itu bukanlah zat tuhan dan bukan pula lain dari zatnya.
• Al-Qur’an, Manurutnya, al-Quran adalah qadim dan bukan makhluk diciptakan.
• Melihat Tuhan, menurutnya, Tuhan dapat dilihat dengan mata oleh manusia di akhirat nanti.
• Perbuatan Manusia. Menurutnya, perbuatan manusia di ciptakan tuhan, bukan di ciptakan oleh manusia itu sendiri.
• Antrophomorphisme
• Keadlian Tuhan, Menurutnya, tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di akhirat. Sebab semua itu marupakan kehendak mutlak tuhan sebab tuhan maha kuasa atas segalanya.
• Muslim yang berbuat dosa. Menurutnya, yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat diakhir hidupnya tidaklah kafir dan tetap mukmin
• Aliran Syiah
1. Pengertian dan kemunculannya Syi’ah
Secara bahasa Syi’ah berarti pengikut. Yang dimaksud dengan pengikut disini ialah para pendukung Ali bin Abi Thalib. Secara istilah Syi’ah sering di maksudkan pada kaum muslimin yang dalam bidang spritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturuan Nabi Muhammad SAW, atau yang sebut sebagai ahl al-bait.selanjutnya, istilah yiah ini untuk pertama kalinya di tujukan pada para pengikut ali (syi’ah ali), pemimpin pertama ahl- al bait pada masa Nabi Muhammad SAW.
Mengenai latar belakng munculnya aliran ini, terdapat dua pendapat, pertama menurut Abu Zahrah, Syi’ah mulai muncul pada akhir dari masa jabatan Usman bin Affankemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Adapun menurut Watt, Syi’ah bener-bener muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal denganPerang siffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan ali terhadap arbitrase yang diatwarkan Mu’awiyah, pasukan Ali di ceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali –kelak di sebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali, kelak di sebut Khawarij.
2. Pokok-Pokok Pikiran Syi’ah
Kaum Syi’ah memiliki lima prinsip utama yang wajib di percayai oleh penganutnya. Kelima prinsip itu adalah :
1. al Tauhid
Kaum Syi’ah mengimani sepenuhnya bahwa allah itu ada, Maha esa, tunggal, tempat bergantung, segala makhluk, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang menyamainya. Dan juga mereka mempercayai adanya sifat-sifat Allah.
2. al ‘adl
Kaum Syi’ah mempunyai keyakinan bahwa Allah Maha Adil. Allah tidak melakukan perbuatan zhalim dan perbuatan buruk, ia tidak melakukan perbuatan buruk karena ia melarang keburukan, mencela kezaliman dan orang yang berbuat zalim.
3. al Nubuwwah
Kepercayaan Syi’ah terhadap para Nabi-nabi juga tidak berbeda dengan keyakinan umat muslim yang lain. Menurut mereka, Allah mengutussejumlah nabi dan rasul ke muka bumi untnk membimbing umat manusia.
4. al imamah
Menurut Syi’ah, Imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia sekaligus, ia pengganti rasul dalam memelihara Syari’at, melaksanakan Hudud, dan mewujudkan kebaikan dan ketentraman umat.
5. al ma’ad
berarti tempat kembali (hari akhirat), kaum Syi’ah sangat percaya sepenuhnya akan adanya hari akhirat, bahwa hari akhirat itu pasti terjadi.
• Aliran Salafiyah
1. Pengertian dan latar belakang munculnya Salafiyah
Secara bahasa salafiyah berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu, yang dimaksud terdahulu disini adalah orang-orang terdahulu yang semasa Rasul SAW, para sahabat, para tabi’in, dan tabitt tabi’in. sedangakan salafiyah berarti orang-orang yang mengikuti salaf.
Istilah salaf mulai dikenal dan muncul beberapa abad abad sesudah Rasul SAW wafat, yaitu sejak ada orang atau golongan yang tidak puas memahami al Qur’an dan hadits tanpa ta’wil, terutama untuk menjelaskan maksud-maksud tersirat dari ayat-ayat al-Qur’an sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah SWT.
Orang yang termasuk dalam kategori salaf adalah orang yang hidup sebelum tahun 300 hijriah, orang yang hidup sesudah tahun 300 H termasuk dalam kategori khalaf.
1. Tokoh-tokoh ulama salaf dan perkembangan Aliran salafiyah.
Tokoh terkenal ulama salaf adalah Ahmad bin Hambal. Nama lengkapnya, Ahmad, bin Muhammad bin Hambal, beliau juga di kenal sebgai pendiri dan tokoh mazhab Hambali. .
Tokoh salafiyah yang terkenal lainnya adalah Taqiyuddin Abu al Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abd al salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah al Hambali, atau yang lebih di kenal dengan nama Ibnu Taimiyah. Beliau merupakan seorang teolog dan ahli Hukum yang banyak menghasilkan karya tulis.beliau juga ahli di bidang tafsir dan hadist.
Dalam perkembangannya, ajaran yang bermula pada Imam Ahmad bin Hanbal ini, selanjutnya di kembangkan oleh Ibnu Taimiyah, kemudian di suburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab.dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara Spodaris.
Pada abad ke 20 M gerakan ini muncul dengan dimensi baru. Tokoh-tokohnya adalah Jamaluddin al Afgani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Salafiyah baru al afgani ini terdiri dari 3 komponen pokok yakni :
1. Keyakinan bahwa kemajuan dan kejayaan umat Islam hanya mungkin di wujudkan jika mereka kembali kepada ajaran Islam yang masih murni dan kembali pada ajaran Islam yang masih murni, dan meneladani pokok hidup sahabat Nabi. Komponen pertama ini merupakan satu unsur yang di miliki oleh salfiyah sebelumnya.
2. perlwanan terhadap kolonialisme dan mominasi barat, baik politik, ekonomi, maupun kebudayaan.
3. pengakuan terhadap keunggulan barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. KEIMANAN DAN KETAKWAAN
3.1 Definisi Iman dan Takwa
Pengertian Iman secara EtimologiIman berasa dari kata amana - yu'minu - imanan yang artinya percaya
Pengertian Iman secara Terminologi
Iman adalah 'aqdun bil qalbi, waiqraarun billisaani, wa'amalun bil arkaan yang artinya diyakini dengan hati diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan amal perbuatan.
Iman sering dikenal dengan istilah akidah, dimana akidah artinya ikatan "ikatan hati", maksudnya seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain.
man menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah syari‟at yaitu meyakinidengan hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikannya dalam amal perbuatan yangterdiri dari tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan cabang. Iman kepada Allah adalah mempercayai bahwa Dia itu maujud (ada) yang disifati dengansifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, yang suci dari sifat-sifat kekurangan. Dia Maha Esa,Mahabenar, Tempat bergantung para makhluk, tunggal (tidak ada yang setara dengan Dia),Pencipta segala makhluk, Yang melakukan segala yang dikehendakiNya, dan mengerjakandalam kerajaanNya apa yang dikehendakiNya. Beriman kepada Allah juga bisa diartikan,berikrar dengan macam-macam tauhid yang tiga serta beri‟tiqad (berkeyakinan) dan beramaldengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid al-asma‟ wa ash-shifaat.
Pengertian Taqwa secara Etimologi
Taqwa berasal dari kata waqa - yaqi - wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi.
Pengertian Taqwa secara Terminologi
Taqwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa.
3.2 Proses terbentuknya Iman
Pada dasarnya, proses pembentukan iman, diawali dengan proses perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak mengenal ajaran Allah maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah. Disamping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja seorang yang benci menjadi senang. Seorang anak harus dibiasakan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan menjahui larangan Allah agar kelak nanti terampil melaksanakan ajaran Allah. Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri dari perbuatan yang nampak saja. Di dalamnya tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak terlalu mudah ditanggapi kecuali secara langsung (misalnya , melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat menggambarkan sikap sikap mental tersebut). Terdapat 5 prinsip dalam proses penanaman iman, yaitu :
o Prinsip pembinaan berkesinambungan
Proses pembentukan iman adalah suatu proses yang penting, terus menerus, dan tidak berkesudahan. Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan orang semakin lama semakin mampu bersikap selektif. Implikasinya ialah diperlukan motivasi sejak kecil dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu penting mengarahkan proses motivasi agar membuat tingkah laku lebih terarah dan selektif menghadapi nilai-nilai hidup yang patut diterima atau yang seharusnya ditolak.
o Prinsip internalisasi dan individuasi
Suatu nilai hidup antara lain iman dapat lebih mantap terjelma dalam bentuk tingkah laku tertentu, apabila anak didik diberi kesempatan untuk menghayatinya melalui suatu peristiwa internalisasi (yakni usaha menerima nilai sebagai bagian dari sikap mentalnya) dan individuasi (yakni menempatkan nilai serasi dengan sifat kepribadiannya). Melalui pengalaman penghayatan pribadi, ia bergerak menuju satu penjelmaan dan perwujudan nilai dalam diri manusia secara lebih wajar dan “amaliah”, dibandingkan bilamana nilai itu langsung diperkenalkan dalam bentuk “utuh”, yakni bilamana nilai tersebut langsung ditanamkan kepada anak didik sebagai suatu produk akhir semata-mata. Prinsip ini menekankan pentingnya mempelajari iman sebagai proses (internalisasi dan individuasi). Implikasi metodologinya ialah bahwa pendekatan untuk membentuk tingkah laku yang mewujudkan nilai-nilai iman tidak dapat hanya mengutamakan nilai-nilai itu dalam bentuk jadi, tetapi juga harus mementingkan proses dan cara pengenalan nilai hidup tersebut. Dari sudut anak didik, hal ini bahwa seyogianya anak didik mendapat kesempatan sebaik-baiknya mengalami proses tersebut sebagai peristiwa pengalaman pribadi, agar melalui pengalaman-pengalaman itu terjadi kristalisasi nilai iman.
o Prinsip sosialisasi
Pada umumnya nilai-nilai hidup bru benar-benar mempunyai arti apabila telah memperoleh dimensi sosial. Oleh karena itu suatu bentuk tingkah laku terpola baru teruji secara tuntas bilamana sudah diterima secara sosial. Implikasi metodologinya ialah bahwa usaha pembentukan tingkah laku mewujudkan nilai iman hendaknya tidak diukur keberhasilannya terbatas pada tingkat individual (yaitu hanya dengan memperhatikan kemampuan seseorang dalam kedudukannya sebagai individu), tetapi perlu mengutamakan penilaian dalam kaitan kehidupan interaksi sosial (proses sosialisasi) orang tersebut. Pada tingkat akhir harus terjadi proses sosialisasi tingkah laku, sebagai kelengkapan proses individuasi, karena nilai iman yang diwujudkan ke dalam tingkah laku selalu mempunyai dimensi sosial
o Prinsip konsistensi dan koherensi
Nilai iman lebih mudah tumbuh terakselerasi, apabila sejak semula ditangani secara konsisten, yaitu secara tetap dan konsekuen, serta secara koheren, yaitu tanpa mengandung pertentangan antara nilai yang satu dengan nilai lainnya. Implikasi metodologinya adalah bahwa usaha yang dikembangkan untuk mempercepat tumbuhnya tingkah laku yang mewujudkan nilai iman hendaknya selalu konsisten dan koheren. Alasannya, caranya dan konsekuensinya dapat dihayati dalam sifat dan bentuk yang jelas dan terpola serta tidak berubah-ubah tanpa arah. Pendekatan demikian berarti bahwa setiap langkah yang terdahulu akan mendukung serta memperkuat langkah-langkah berikutnya. Apabila pendekatan yang konsisten dan koheren sudah tampat, maka dapat diharapkan bahwa proses pembentukan tingkah laku dapat berlangsung lebih lancar dan lebih cepat, karena kerangka pola tingkah laku sudah tercipta.
o Prinsip integrasi
Hakikat kehidupan sebagai totalitas, senantiasa menghadapkan setiap orang pada problematika kehidupan yang menuntut pendekatan yang luas dan menyeluruh. Jarang sekali fenomena kehidupan yang berdiri sendiri. Begitu pula dengan setiap bentuk nilai hidup yang berdimensi sosial. Oleh karena itu tingkah laku yang dihubungkan dengan nilai iman tidak dapat dibentuk terpisah-pisah. Makin integral pendekatan seseorang terhadap kehidupan, makin fungsional pula hubungan setiap bentuk tingkah laku yang berhubungan dengan nilai iman yang dipelajari. Implikasi metodologinya ialah agar nilai iman hendaknya dapat dipelajari seseorang tidak sebagai ilmu dan keterampilan tingkah laku yang terpisah-pisah, tetapi melalui pendekatan yang integratif, dalam kaitan problematik kehidupan yang nyata
3.3 Tanda-Tanda Orang Beriman
Iman ialah kepercayaan teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Orang beriman berarti orang yang percaya adanya Allah dengan teguh dan yakin yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa kepada-Nya. Iman dalam hati seseorang tidaklah dapat diketahui oleh siapapun juga kecuali oleh Allah. Yang memungkinkan diketahui oleh kita hanyalah tanda-tanda iman yang ada pada seseorang yang tampak pada perbuatannya.
1. Taat Kepada Allah Arti taat ialah senantiasa patuh, setia dan tulus.
Taat kepada Allahberarti senantiasa patuh dan setia, serta tulus beribadah kepada Allah swt. Ketaatan kepada Allah seharusnya di atas segala ketaatan kita kepada yang lain. Bahkan ketaatan kita kepada yang lain semata-mata karena ketaatan kita kepada-Nya. Misalnya, taat kepada orang tua karena ia taat kepada Allah, dan taat kepada pemerintah karena melaksanakan perintah Allah swt. “Tidak ada kewajiban taat bagi makhluk (manusia) dalam hal perbuatan maksiat kepada Khaliq (Allah).” (HR. Tirmidzi) Bentuk ketaatan kepada Allah antara lain disebutkan dalam QS. Al-Mu’minun sebagai ciri-ciri orang beriman, yaitu: Allah swt berfirman:
Allah swt berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1), (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (2), dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna(3), dan orang-orang yang menunaikan zakat (4), dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (5), kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela (6). Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (7). Dan orang-orang yag memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (8), dan orang-orang yang memelihara sholatnya (9). Mereka itulah orang-orang yang aka mewarisi (10), (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11).” (QS. Al-Mukminun/23:1-11) Dengan demikian, ketaatan kepada Allah dapat diwujudkan antara lain dengan melaksanakan beberapa ciri orang beriman sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi, yaitu: Khusyu’ dalam shalat, yaitu bersikap tunduk di hadapan Allah dengan menghayati makna bacaan shalat. Terpelihara dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Menunaikan zakat. Memelihara kemaluan.
Memelihara amanah. Menepati janji, kepada Allah dan kepada mausia. Memelihara shalat, yakni dengan menjaga syarat dan rukunnya, serta melaksanakan pesan-pesan moralnya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Berbuat Baik Kepada Orang Tua
Berbuat baik atau berbakti kepada orang tua wajib hukumnya bagi setiap orang beriman, karena orang tua telah dengan susah memelihara anaknya sejak dalam kandungan hingga menjadi dewasa. Oleh karena itu, sepatutnya seorang anak berterima kasih, bersikap baik dan hormat kepada kedua orang tuanya. Membantah orang tua dan membuat mereka marah adalah dosa dan berarti mengundang kemarahan Allah; sebaliknya menaati dan membuat mereka bahagia adalah perbuatan mulia dan berarti mengundang keridhaan Allah. Nabi saw bersabda: “Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi) Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23). Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhabku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (24).” (QS. Al-Isra’/17:23-24) Berdasarkan ayat di atas, di anatara cara berbakti kepada orang tua yang terpenting ialah: Hormat dan patuh kepada kedua orang tua dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran agama.
3. Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia dan Lingkungan Hidup Orang Islam
ialah orang yang dapat menyelamatkan orang-orang Islam lainnya melalui perkataan, perbuatan dan menyelamatkan lingkungan alam sekitar. Orang yang percaya kepada Allah hendaknya dapat memberi rasa aman kepada orang lain dan alam sekitarnya. Seorang mukmin belum sempurna imannya, apabila belum mencintai saudaranya dan begitu juga dapat memelihara alam lingkungannya. Nabi saw bersabda: “Tidak sempurna iman kamu, sehingga ia menyayangi saudaranya seperti menyayangi diri sendiri.” (HR. Bukhari) “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahka Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashas/28:77) Oleh sebab itu, sudah merupakan kewajiban bagi kita menjadi warga masyarakat yang baik dan dapat mengikuti aturan dalam masyarakat, pandai bergaul, dapat bekerja sama dengan mereka dan tidak berbuat kerusaka di muka bumi. Allah swt berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
3.4 Korelasi Keimanan dan Ketakwaan
Korelasi Keimanan dan KetakwaanKeimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadidua, yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis.
1. tauhid teoritis
tauhid teoritis adalah ajaran yang membahas tentang keesaan zat, sifat dan perbuatan tuhan. Pembahasan keesaan zat,sifat dan perbuatan tuhan berkaitan dengan kepercayaan kepercayaan,pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang tuhan. konsenkuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa allah adalah satu-satunya wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.
2. tauhid praktis
Tauhid praktis merupakan terapan dari teori teoritis. Kalimat laillaha illallah (tiada tuhan selain allah)yang lebih menekankan pengertian tentang tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid adalah ketaatan hanya kepada allah. Dengan lai tidak ada yang disembah selain allah, atau yang disembah hanya allah semata dan menjadikannya temapt tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.
selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengertian beriman kepada Allah SWT. Tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan perbuatan, tidak dapat dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara sempurna. Dalam pandangan islam, yang dimaksud dengan tauhid sempurna adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah dan dalam perbuatan praktis kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain harus ada kesatuan dan keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam diri dan dalam kehidupan sehari-hari secara murni dan kosekuen
BAB III
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Ilmu Kalam adalah suatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalilaqliyah (rasional ilmiah) dan sebagai tameng terhadap segala tantangan dari para penentang.Tujuannya Untuk mengetahui bahwa Allah itu wajib diimani kewujudan-Nya, yang diperkuat dengan dalil-dalil rasio. Ilmu kalam sendiri lahirldi awali dengan timbulnya masalah politik yang terjadi antar umat islam.
Terdapat beberapa aliran dalam ilmu kalam seperti, aliran khawarij, aliran murji’ah, aliran qodariyah, aliran jabariyah, aliran Ahlussunah Wal- Jamaah, aliran syiah dan aliran salafiyah.
Iman adalah 'aqdun bil qalbi, waiqraarun billisaani, wa'amalun bil arkaan yang artinya diyakini dengan hati diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan amal perbuatan.Taqwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa.
Adapun proses terbentuknya iman seperti, prinsip pembinaan kesinambungan,Prinsip internalisasi dan individuasi, prinsip sosialisasi, Prinsip konsistensi dan koherensi, prinsip integrasi.
Tanda-tanda orang beriman seperti, Taat Kepada Allah,baik kepada orang tua, dan Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia dan Lingkungan Hidup Orang Islam.korelasi keimanan dan ketakwaan terbagi menjadi dua, tauhid teoritis adalah ajaran yang membahas tentang keesaan zat, sifat dan perbuatan tuhan. Pembahasan keesaan zat,sifat dan perbuatan tuhan berkaitan dengan kepercayaan kepercayaan,pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang tuhan. konsenkuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa allah adalah satu-satunya wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.Tauhid praktis merupakan terapan dari teori teoritis. Kalimat laillaha illallah (tiada tuhan selain allah) yang lebih menekankan pengertian tentang tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid adalah ketaatan hanya kepada allah. Dengan lai tidak ada yang disembah selain allah, atau yang disembah hanya allah semata dan menjadikannya temapt tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar